“Terkait dengan sekolah kita menerapkan digitalisasi sekolah atau memasuki Sekolah 4.0, kami salah satunya ada program Digital Teknologi Metaverse, salah satunya putra bapak akan kami libatkan secara khusus dalam program ini. Isi program Digital Teknologi Metaverse salah satunya pemrograman games. Nanti Andi yang akan memimpin dan memilih team buat kompetisi games tingkat nasional mewakili sekolah. Apakah bapak mengijinkan kami melibatkan Andi?”, ini permintaan pak Budiman.
Aku sendiri kaget mendengar pemaparan pak Budiman, beliau sambil tersenyum ke arahku. Belum sempat ayah menjawab, pak Budiman bercerita kalau aku sebenarnya sudah diketahui memang ahli dalam bermain games,khususnya games strategi. Oleh karena itu sekolah yakin akan keberhasilannya dalam memenangkan lomba bila aku yang pegang. Dan jangan khawatir dengan akademiku bila aku nanti pegang peran ini, sekolah pasti akan membantu maksimal dalam akademiku. Sesaat aku merasa kalau kali ini ayah menatapku langsung. Aku hanya bisa tersenyum aja saat ayah menatapku.
“Bagaimana pak? Apakah diijinkan Andi kami libatkan?”, tanya kembali pak Budiman.
“Baik, saya rasa bila itu yang terbaik buat Andi dan sekolah, saya sebagai orang tua dengan senang hati akan mendukung sepenuhnya,” jawab ayahku sambil tersenyum bahagia.
“Baik pak, mari kita ke aula, acara pertemuan orang tua akan segera dimulai,” demikian pak Budiman mengakhiri pertemuan dengan ayah.
Lalu ayah menyuruh aku menunggu di perpustakaan sekolah, dia dan pak Budiman melangkah menuju aula sekolah yang ada di gedung sebelah utara dari kantor kepala sekolah ini.
Setelah hari itu, ayah sekarang aku rasakan lebih perhatian sama aku. Setelah 3 minggu berlalu, disuatu malam saat makan malam bersama, tiba-tiba Intan menyeletuk. “Ayah kok sekarang nggak pernah nanya-nanya kegiatan kak Andi sih… Ayah pilih kasih ya?”, demikian Intan berkata.
“Ayah sekarang tidak perlu lagi nanya aktivitas sekolah kak Andi, kalian tahu tidak? Sekolah kak Andi sudah digitalisasi Sekolah. Dan di HP ayah sudah ada aplikasi yang bisa ayah buka sewaktu-waktu dan ada informasinya aktivitas kakakmu. Nah… sekolah kalian kali ini kalah sama sekolah kak Andi, sekolah digital itu sangat penting sekarang ini”, demikian jawab ayah.
“Lalu aplikasi itu ayah bisa tahu apa saja?”, tanya kak Anton.
“Aplikasi ini ayah bahkan tahu kalau seumpama adikmu tidak mengikuti pelajaran, info nilai-nilainya juga sudah ada. Contoh, minggu lalu ada informasi Andi ini tidak ikut pelajaran matematika, tapi ayah juga tahu, dia tidak bolos dan main. Karena ada informasi dari guru IT-nya kalau Andi sedang dapat pelatihan khusus selama 2 hari bersama teamnya”, demikian ayah menjawab pertanyaan kak Anton.
“Satu hal lagi yang penting, ayah dan banyak orang tua jadi tidak merasa buta terhadap aktivitas Andi dibalik tembok sekolah itu,” demikian jawab ayah. Terlihat ayah sangat bangga menceritakan hal itu.
Aku merasa sekarang sekolahku tidak kalah dengan sekolah kak Anton dan dik Intan. Mereka semakin terkejut setelah ayah menceritakan kalau aku masuk dalam team games, salah satu kegiatan program Digital Teknologi Metaverse. Ayah denan antusias membicarakan sekolah digital dan program Digital Teknologi Metaverse. Aku hanya ikut mendengarkan sambil tersenyum senang.
[TAMAT]